A Letter of Friendship

A Letter of Friendship…

         Indahnya persahabatan bisa putus. Karena kadang-kadang kita sama-sama berpikir,”ah, mungkin dia lagi sibuk”. Akhirnya kita tidak jadi untuk mengabari sahabat kita mungkin lewat SMS atau telepon. Kadang-kadang kita berpikir, “takut ganggu dia”. Lama kelamaan jadi saling cuek, dan ahirnya muncul pemikiran “untuk apa menghubungi dia duluan? Dia saja belum tentu mau menghubungi kita”. Jika ceritanya sudah seperti ini, rasa cinta persahabatan jadi berkurang dan hasilnya lama kelamaan menjadi lupa akan persahabatan yang dulu pernah terjalin.

       Tegur aku, jika aku mulai sombong. Tegur aku,  jika aku mulai angkuh. Tegur aku, jika aku mulai salah. Karena aku ingin menjadi sahabatmu hari ini, esok dan selamanya. Jika saling berjauhan, bukanlah sebuah alasan untuk saling melupakan tapi melainkan untuk saling mendoakan.

          Terkadang persahabatan dapat diakhiri dengan cinta, tapi sangatlah jarang jika cinta dapat diakhiri dengan persahabatan. Waktu boleh berlalu dan zaman bisa berganti, tapi persahabatan kita tidak boleh pudar. Indah dunia hanya sementara, indah cinta hanya seketika, indah mimpi tak pernah pasti, tetapi indahnya persahabatan selalu abadi di dalam Tuhan. Hujan tidak pernah menyesal menyirami bumi, karang tidak pernah menyesal berada di lautan meskipun selalu diterjang ombak, seperti itulah aku agar kamu tidak akan pernah menyesal mengenalku.

           Hidupku seperti sebuah buku. Dihalaman pertama aku tulis nama Tuhanku dan nama orang tuaku, keluargaku, dan orang yang kucintai. Lalu aku membuka halaman bagian tengahnya, disitu aku menulis nama orang-orang yang pernah menyakiti aku, karena bagian tengah buku mudah disobek dan dibuang. Dihalaman yang terakhir aku menulis nama kamu, karena kamu akan menjadi seorang sahabat yang tidak akan pernah aku lupakan sampai akhir cerita buku kehidupanku.

       Aku mengenalmu tanpa disengaja, mencoba akrab denganmu, menjalani persahabatan yang indah. Saling melengkapi satu sama yang lain, bersatu dalam ikatan persaudaraan. Mungkin suatu saat kamu akan lupa tentang aku, namaku dan siapa aku. Tapi setidaknya kamu harus tahu bahwa aku adalah satu dari sekian banyak orang yang mengasihimu. Kelak suatu saat jika kita sudah mempunyai kehidupan masih-masing aku akan menceritakan pada dunia bahwa aku bahagia punya sahabat seperti dirimu.

“People do not probably get a better writing on his tombstone than what he wrote in the hearts of his friends.”

                                                                                                Friday, February 15, 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s