Sendiri atau Ditemani ?

Cerita ini dikarang saat aku sedang sakit. Waktu itu aku hanya berdiam diri di ruang tidurku, siang dan malam tubuh saya begitu sulit untuk digerakkan.
Arrgghh!! Parahnya tidak ada yang tahu kalau aku itu sedang sakit, tapi itulah yang aku inginkan. Bukannya aku tidak mau mengatakan pada orang tuaku kalau aku sedang sakit, tapi aku tidak mau membuat mereka kwatir dan cemas. Dengan alasannya, bagaimana jika salah satu orang tua kalian lagi sakit dan kemudian kalian mengatakan pada orang tua kalian kalau kalian lagi sakit! Apa yang akan terjadi, tentu saja orang tua kalian akan cemas dan malahan hanya akan menambah beban pikiran mereka. Itulah yang ada di dalam pikiranku saat itu, aku tidak mau menambah beban pikiran orang tuaku.

Sifat orang memang berbeda. Ada yang lebih suka bersama dengan orang lain ketika mereka sakit. Sebaliknya ada juga yang lebih suka menyendiri. Saya termasuk orang yang lebih suka sepi. Begitulah selama beberapa hari saya berada di ruang tidurku. Tidak ada satupun telpon dan SMS yang masuk untuk menanyakan keadaanku, yang ada hanyalah SMS dari teman sekelasku; “Morning bro! are u ready go to campus ?”. Padahal waktu itu aku sangat berharap ada seseorang yang menanyakan keaadaanku. Sedih juga tidak ada kabar dari orang-orang terdekatku.

Akan tetapi terus-menerus sendiri juga terasa tidak menyenangkan! Selama aku sakit aku tidak mempunyai teman bicara atau sharing.Yang aku lakukan hanyalah melamun, menulis, mengetik dan membaca buku sejarah. Hari demi hari, aku pun mulai merasa benar-benar kesepian.
Pada suatu hari aku harus mengikuti ujian praktek Mid-Semester salah satu mata kuliah yang akan dilaksanakan di rumah dosenku. Mau tidak mau aku harus pergi ke kota Manado yang jaraknya kurang lebih 45 menit dari kotaku. Walaupun aku masih merasa sakit dan terasa sulit untuk berjalan, dengan terpaksa aku harus pergi mengikuti ujian praktek tersebut demi nilai semester nanti. Tetapi apa yang terjadi ? Tanpa aku sadari disana aku bisa kembali lagi tertawa, dan saling bercanda dengan teman-teman sekelasku dan malahan rasa sakitku tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Dan akhirnya Puji Tuhan aku bisa mengikuti ujian mid-semester tersebut dengan baik.
Setiba dirumah, aku langsung masuk ke dalam ruang tidurku dan merenungkan semua kejadian yang baru saja aku alami. Apakah itu semua mujizat Tuhan ?!

Berada seorang diri dan berada bersama memang saling melengkapi. Kita tidak bisa terus-menerus sendirian, kita adalah mahkluk sosial yang saling membutuhkan satu sama yang lain. Sebaliknya, kita juga tidak bisa terus-menerus berada bersama dengan orang lain. Di satu pihak kita menjunjung sifat mandiri dan di lain pihak kita menjunjung kebersamaan. Kadang-kadang kita ingin privasi, kadang-kadang kita ingin ditemani. Ada saatnya untuk berada bersama, ada saatnya untuk berada seorang diri.

Jika disaat kita sedang sakit, disaat kita mengalami kesusahan, disaat kita membutuhkan teman bicara, apa yang akan kita lakukan ? Tentu saja kita akan berdoa kepada Tuhan untuk meminta pertolongannya. Tarik napas yang dalam, lepas secara perlahan-lahan. Ulangi berkali-kali sambil meneduhkan pirikan, teduhkan pikiriran seteduh-teduhnya. Apakah kalian mendengar ada bisikan dalam hati kalian ? Itulah suara Tuhan. Kita tidak sendirian, kita ditemani, ditemani oleh Tuhan.

Advertisements

2 thoughts on “Sendiri atau Ditemani ?

    • hahaha, u right sist 😀

      Tuhan akan selalu menemani kita meskipun kita tidak melihat keberadaanNya.
      Just believe if God always beside u.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s